Our Destinations
Discover your dream destination

Loading
Discover your dream destination
Bulan November tapi Sudah Natal? Intip Serunya Trip ke Baltic & Scandinavia!

Coba bayangin, keliling 7 kota di Eropa sendirian cuma dalam waktu 8 hari. Kedengerannya susah buat dilakukan, tapi tanggal 17 sampai 26 November kemarin, aku nekat jalanin rencana ini sendirian, padahal cuaca November di Eropa sudah memlasuki musim dingin dan anginnya nusuk banget ke tulang.
Mungkin kalian bertanya kenapa sih harus di bulan November banget? soalnya di bulan segitu, kota-kota Eropa lagi sibuk bersiap2 buat Natal. Lampu-lampu mulai nyala, pasar Natal mulai buka di kota tua. Nih aku ceritain gimana rasanya backpacking sendirian nembus angin dingin, ganti-ganti transportasi dari pesawat, bus, kereta, sampai kapal pesiar, demi ngerasain suasana persiapan perayaan akhir tahun ala Eropa.

Petualangan ini resmi dimulai 17 November. Habis penerbangan kira2 17 jam akhirnya mendarat juga di Bandara Chopin, Warsawa. Baru keluar pintu kedatangan, udara dingin khas Eropa Timur langsung menusuk muka.
Saat Jalan2 di kota tua Warsawa pas malam hari, aku langsung disambut oleh lampu Natal yang sudah mulai nyala di lapangan utama kota. Dan fun fact, ternyata kota tua Warsawa itu dibangun ulang hampir 100% loh setelah hancur pas Perang Dunia Kedua! Asli dingin banget guys malam hari di Warsaw, sambil gosok-gosok tangan nahan dingin, aku mampir ke e-wedel chocolate yang ternyata menjual hot chocolate terenak di Polandia loh, rasanya creamy dan kental guys dan yang paling penting menghangatkan badan yang sudah kedinginan ini.

Dari Warsawa lanjut jalan darat ke Baltik. Karena aku jalan sendiri, aku pilih bus antarnegara karena hemat biaya dan nyaman. Warsawa ke Vilnius (Lithuania) memakan waktu 8-9 jam. Duduk selama itu capek banget guys. Tapi begitu sampai, semua terbayar lunas. Kota tua Vilnius itu cantik banget dengan arsitektur barok, dan pasar Natal-nya terkenal punya pohon Natal paling unik se-Eropa.

Besoknya lanjut naik bus ke Riga, ibu kota Latvia, sekitar 4-4,5 jam. Begitu sampai di pusat kota tua Riga, rasa capek perjalanan langsung teralihkan. Fun fact-nya, Riga ngeklaim jadi tempat pertama di dunia yang masang pohon Natal berhias, tahun 1510! Karena nilai historisnya aku langsung minta tolong orang lewat buat fotoin aku di depan pohon Natal raksasanya hehehe.

Perhentian Baltik terakhir: Tallinn, Estonia, masih naik bus sekitar 4,5-5 jam dari Riga. Waktu ini aku manfaatin banget untuk tidur siang, supaya ngumpulin tenaga lagi untuk perjalanan yang masih panjang.
Dari semua kota tua yang aku kunjungin, Tallinn itu favoritku. Dinding batu abad pertengahan sama menara pemantau kunonya bikin kota ini terasa wow banget! Pasar Natalnya sering masuk daftar pasar Natal terbaik Eropa. Baru sampai aja sudah disambut wangi kacang panggang manis dan anggur hangat. kaki rasanya udah mati rasa saking dinginnya, tapi aku tetap berjalan keliling untuk meliat kerajinan tangan buatan warga lokal.

Dari Tallinn aku pindah moda, nyebrang ke Helsinki, Finlandia, naik feri cepat lewat Teluk Finlandia, cuma 2 jam. Helsinki suasananya lebih modern dan rapi, tapi angin laut Baltik bulan November itu dinginnya gak main-main. Aku lebih banyak ngadem di kafe sambil liat gemerlap kota dari balik jendela.
Habis itu lanjut lagi naik kereta lokal menuju Turku, sekitar 2 jam perjalananya. Aku melihat pemandangan dari jendela kereta melewati pedesaan Finlandia yang cantik, sekalian jadi waktu buat istirahatin kaki yang udah mulai bengkak abis jalan seharian.

Dari pelabuhan Turku, aku naik kapal pesiar malam menuju Stockholm, Swedia. Durasinya lumayan panjang, sekitar 11 jam. Ini bagian paling seru istirahat tidur di kabin kapal sambil melihat pemandangan membelah lautan baltic dari jendela kabin.

Fun fact-nya, rute Turku-Stockholm ini ngelewatin ribuan pulau kecil. Paginya, aku meliat pulau-pulau bersalju dari atas dek kapal yang indah. Sampai di Stockholm, aku langsung disambut suasana khas Skandinavia. Aku langung jalan ke Gamla Stan yaitu salah satu kota tua yang terletak di tengah kota Stockholm yang sudah disulap jadi pusat perayaan natal yang meriah banget.

Destinasi terakhir aku adalah Kopenhagen, Denmark. Dari Stockholm naik kereta cepat lintas negara sekitar 5 jam. Aku duduk liat pemandangan musim dingin di luar jendela itu memanjakan mata.
Pas sampai di stasiun Kopenhagen aku langsung mengarah ke Tivoli Gardens yang sudah full dihias tema Natal, masuk ke sana rasanya seperti balik jadi anak kecil lagi. Fun fact penutup, Tivoli Gardens itu taman hiburan tertua kedua di dunia, dan katanya jadi salah satu inspirasi Walt Disney bikin Disneyland.
Hari yang ditunggu-tunggu, 26 November, akhirnya tiba. Saatnya aku kembali ke dunia nyata dan melanjutkan keseharianku. Aku berangkat menuju Bandara Kopenhagen, siap untuk meninggalkan Eropa dan kembali ke Indonesia.
Aku duduk di ruang tunggu, menunggu waktu boarding ke pesawat. Rasanya sangat campur aduk, tak sabar untuk pulang, tapi juga sedih karena harus meninggalkan tempat-tempat indah yang aku kunjungi. Mengelilingi 7 kota sendirian dalam 8 hari itu benar-benar sebuah petualangan yang tidak bisa dilupakan.
Aku masih ingat betapa capeknya aku selama perjalanan. Belasan jam di pesawat, menarik koper dari terminal bus ke stasiun kereta, lanjut ke pelabuhan kapal, dan berjalan di tengah angin beku. Semua itu memang melelahkan, tapi aku tidak menyesal.
Karena ketika aku melihat kota-kota Eropa berubah menjadi desa musim dingin yang penuh cahaya, semua kelelahan itu langsung hilang. Aku merasa sangat bahagia dan puas. Ketika pesawat lepas landas, aku tidak bisa menahan senyum. Solo trip ini akan menjadi salah satu cerita yang aku kenang sampai tua nanti, pengalaman sekali seumur hidup yang tidak akan aku lupakan.

Lebaran di Samarkand, Uzbekistan Kayak Apa Sih? Ini Pengalamanku!
Bosan Lebaran di rumah? Yuk, ikuti pengalamanku merayakan Idul Fitri anti-mainstream di Samarkand dan Bukhara, Uzbekistan. Luar biasa seru dan epik abis!
Malam Tahun Baru di Red Square: Sisi Lain Moskow di Musim Dingin
Cerita perjalanan ke Moskow saat Christmas market buka, dari GUM Fair dan Manezhnaya Square di Red Square, ice skating di VDNKh, sampai tips waktu terbaik berkunjung dan cara dapat akses malam Tahun Baru di Red Square.
Bo-Kaap: Saat Warna-Warni Dinding Berbicara Tentang Kebebasan
Mengenal Bo-Kaap, kampung warna-warni ikonik di Cape Town, Afrika Selatan, lengkap dengan sejarah perbudakan, komunitas Cape Malay, hingga tantangan gentrifikasi yang dihadapinya kini. Panduan berkunjung yang santai sekaligus menghargai budaya lokal.
Negara Menembus Awan: 10 Spot Ekstrem di Tajikistan Buat Traveler Anti-Mainstream